True Story: ADA CAHAYA DI WISMA LANSIA

1569

KUDUS (13/5) – Wajah-wajah lanjut usia itu tetap ceria. Senyum indah merekah dengan kedua mata berbinar indah. Asa tak pernah pudar dari jiwa-jiwa yang telah memasuki usia senja.

Siang itu, selepas zhuhur, Bea Cukai Kudus menyusuri jalan-jalan raya di Kabupaten Kudus. Dibantu aplikasi peta online, perjalanan diarahkan ke suatu alamat yang istimewa. Memasuki beberapa lorong dan menyusuri jalanan setapak yang tidak lagi semulus jalan raya. Setelah melewati kebun tebu dan persawahan hijau yang ditanami padi, terlihat sebuah rumah bercat biru. Wisma Lansia Aisyiyah Kudus, itulah nama tempat yang sedang dituju.

Rombongan disambut oleh beberapa orang nenek yang seperti tak sabar untuk berjumpa. Salah seorang pengurus Wisma Lansia juga menyambut dan dengan ramah mempersilakan masuk. Beberapa sembako donasi dari para pegawai Bea Cukai Kudus diserahkan dan buku tamu diisi demi tertib administrasi.

Mbah Jum, salah satu penghuni wisma, begitu ceria dan bersemangat bercerita. Beberapa lagu tradisional beliau nyanyikan sambil bertepuk tangan. Semua pun ikut larut bertepuk tangan ringan menyemangati Mbah Jum. Mbak Yuni, PPNPN pada Bea Cukai Kudus tak mampu lagi membendung air matanya. Ia teringat orang tuanya.

Mbah Tun, nenek berbaju kuning penghuni wisma, adalah yang paling pendiam. Berjalannya tertatih-tatih. Sepertinya berat dan sulit baginya untuk melangkah. Namun, beliau tak pernah menyerah. Beliau dikatakan sangat rajin beribadah serta berkata-kata hanya untuk hal-hal penting dan berfaedah.

Mbah Fathonah, penghuni wisma lainnya, paling suka berbisik dan bercerita. Beliau bilang, “Hormatilah dua orang! Pertama, ibumu. Kedua, istrimu.”

Sungguh pesan beliau senada dengan pesan Baginda Nabi Muhammad SAW ketika ditanya tentang siapa orang yang paling layak dimuliakan. Dijawab beliau, “Ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu.”

Nenek-nenek ini bahagia dikunjungi, bahagia ditemani bercerita. Mereka berasal dari latar belakang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Kudus. Ada pula yang dari kota lainnya. Ada yang datang atas kemauan sendiri. Ada juga yang dititipkan keluarganya. Yang pasti, berbakti kepada orang tua, termasuk kaum kerabat kita yang telah renta, adalah salah satu jalan menuju surga. Itulah cahaya. Cahaya pahala yang dapat mengundang ridho dan keberkahan-Nya. Kita menyayangi kedua orang tua kita sebagaimana mereka menyayangi kita sewaktu kecil.

#beacukaikudus #beacukaiberbagi #beacukaipeduli #spiritramadhan #wismalansiaaisyiyah #pantijompo