Keutamaan Bulan Muharram

654

Kudus (04/09) – Bea Cukai Kudus kembali mengadakan bimbingan mental bagi pegawai yang beragama muslim pada hari Rabu, 4 September 2019 bertempat di Masjid Ghoiru Jami Al-Fattah. Dengan pembicara Ustadz Abdul Hadi yang memberikan kajian mengenai Keutamaan Bulan Muharram.

Bulan Muharram merupakan bulan yang mengawali tahun baru Hijriyah. Bulan Muharram berasala dari kata Haram. Kata Haram memiliki dua arti, yang pertama yaitu tidak boleh dilakukan. Pada zaman Rasulullah, saat Bulan Muharram diharamkan untuk melakukan peperangan. Arti yang kedua adalah mulia. Bulan Muharram dianggap mulia karena di dalamnya terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan.
Ada beberapa amalan yang bisa dilakukan untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam dalam bulan Muharram. Amalan yang pertama ialah Puasa Asyura.Puasa Asyura hukumnya sunah dan dilakukan pada 10 Muharram. Keutamaan yang didapat adalah menggugurkan dosa selama setahun kebelakang. Selain Puasa Asyura, umat Muslim juga disunahkan untuk melakukan Puasa Tasua, yaitu pada 9 Muharram.

Amalan yang kedua ialah menyantuni anak yatim. Pada bulan Muharram, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Terutama menyantuni anak yatim pada 10 Muharram. Lalu amalan yang terakhir yaitu memberikan nafkah lebih besar dari biasanya. Memberikan uang nafkah kepada istri dengan jumlah lebih besar pada bulan Muharram dapat melapangkan rezeki selama satu tahun ke depan. Bagi yang belum mempunyai istri, maka dapat memberikan sebagian rezekinya kepada orang tuanya.

Dengan diadakannya bintal pada kali ini, diharapkan pegawai muslim Bea Cukai Kudus dapat menjalankan amalan yang telah dianjurkan serta dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan.