Amati, Tiru, Modifikasi

784

Bimbingan mental bagi pegawai beragama muslim rutin diadakan seminggu sekali oleh Bea Cukai Kudus. Hari Kamis, 7 Februari 2019 bertempat di Masjid Ghoiru Jami Al-Fattah, Ustad Noor Aziz memberikan kajian tentang Tafsir Hadist Kitab Riyadhus Shalihin Bab 20 tentang Menunjuk Pada Suatu Kebaikan dan Mengajak Kepada Suatu Kebenaran atau Suatu Kesesatan.

Amati, tiru, serta modifikasi sudah banyak kita lakukan di dunia ini. Sebagai contoh dalam hal baik, seorang anak bisa berbicara karena mendengar orang-orang disekelilingnya berbicara. Seorang anak bisa merangkak, berdiri, hingga berjalan karena dia dilatih dan mengamati orang-orang disekelilingnya. Ketika kita berani mencetuskan suatu ide atau melakukan sesuatu, itu merupakan hasil belajar kita, karena kita telah memiliki latar belakang pengetahuan akan hal tersebut. Sedangkan contoh dalam hal buruk ialah maksiat pertama yang dilakukan oleh anak Adam. Hal tersebut ialah membunuh orang lain.

Orang yang menjadi pelopor dalam suatu perkataan atau perbuatan akan mendapat fadhilah dari orang lain yang mengikuti perkataan atau perbuatannya tersebut. Dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 20, disebutkan bahwa “Barangsiapa mengajak pada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya, tanpa dikurangi sedikitpun. Barangsiapa mengajak pada keburukan, maka ia akan mendapat dosa seperti orang yang melakukannya, tanpa dikurangi sedikitpun”.

Mengajak dalam hal ini bisa diartikan dalam dua hal. Pertama yaitu mengajak secara langsung, artinya mengajak orang lain melalui lisan atau perintah. Contohnya adalah ketika Kepala Kantor memerintahkan anggotanya untuk datang ke kantor pada pukul 07.30. Kedua yaitu mengajak secara tidak langsung, artinya kita melakukan suatu perbuatanlalu ditiru oleh orang lain tanpa kita menyuruh orang tersebut untuk mengikutinya. Contohnya ketika ada pegawai yang rajin, kemudian ditiru oleh pegawai yang lainnya.

Lalu, Ustadz Noor Aziz menjelaskan tentang Amar Maruf Nahi Munkar. Bahwasannya amar maruf nahi munkar itu tidak selalu ustadz. Apabila kita sedang berada di warung bersama teman-teman lalu terdengar suara adzan dan kita mengajak yang lain untuk solat, maka itu termasuk amar maruf nahi munkar. Syarat-syarat Amar Maruf Nahi Munkar adalah:

  1. Orang yang mengajak atau mencegah atas suatu perbuatan memang paham ilmu dan hakikatnya, bukan hanya berasala dari perkataan orang lain.
  2. Tahu orang yang kita ajak/larang sudah melakukan sesuatu yang baik atau buruk.
  3. Kemunkaran yang kita cegah tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar.

Melalui kegiatan bintal ini diharapkan para pegawai Bea Cukai Kudus dapat mengamalkan pesan yang disampaikan, yaitu menjadi orang yang bersifat Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ini adalah bagian jihad kita menegakkan agama Allah SWT. Siapa yang gugur dalam membela agama-Nya, maka ia mati syahid, dan siapa yang mati syahid, maka Allah SWT akan jamin baginya masuk ke dalam surga-Nya.